Anak Kemarin Sore
Jumat, 13 Januari 2012
Sabtu, 12 Maret 2011
Ingatkah engkau jantung hatiku
tersentuh dalam buaian
tersa begitu spektakuler
ketika berlabuh ku pada suatu pulau
dan disaat ku berlabuh
aku mersa ada banyak sekali rasa di dalamnya
oh,, dirimu yang disana
akan kah engkau meresa
merasakan kerinduan yang amat dalam
sedalam lautan di samudra sana
ketika ku mengingatmu
aku seakan mersa dalam alam yang berbeda
sejuk, damai, indah bahkan hening
aku bahagia
aku harap kau bisa meraskan
mersakan betapa aku merasa bahwa kau yang selalu terindah
akan ku ingat itu
bahwa engkau adalah hal yang selalu terindah
suatu saat akan aku bawa engkau
kedalam pulai tersebut
pulau yang akan mengantarkan kepada sapa saja yang datang mersa terbuai akan keindahannya
semoga engaku mengetahui
begitu banyak aku tumpuhkan
harapan ini kepadamu
oh....engkau jantung hatiku semoga engkau tahu
Wahai engkau yang disana
tersentuh dalam buaian
tersa begitu spektakuler
ketika berlabuh ku pada suatu pulau
dan disaat ku berlabuh
aku mersa ada banyak sekali rasa di dalamnya
oh,, dirimu yang disana
akan kah engkau meresa
merasakan kerinduan yang amat dalam
sedalam lautan di samudra sana
ketika ku mengingatmu
aku seakan mersa dalam alam yang berbeda
sejuk, damai, indah bahkan hening
aku bahagia
aku harap kau bisa meraskan
mersakan betapa aku merasa bahwa kau yang selalu terindah
akan ku ingat itu
bahwa engkau adalah hal yang selalu terindah
suatu saat akan aku bawa engkau
kedalam pulai tersebut
pulau yang akan mengantarkan kepada sapa saja yang datang mersa terbuai akan keindahannya
semoga engaku mengetahui
begitu banyak aku tumpuhkan
harapan ini kepadamu
oh....engkau jantung hatiku semoga engkau tahu
Berjuang seperti halnya ombak di pesisir pantai
Berdesir suara yang seakan menghembus
menghampas kesunyian-kesunyai ini
menelusuri lorong waktu
yang ku pijak seakan tiada akhir
ingin ku gapai suatu tujuan
tujuanku entah kemana?
akankah ku menemukan jalan?
jalan kepastian, tiada hambatan?
semua itu adalah teka-teki dalam hidupku
yang seakan meletup-letup seperti uranium
menjalar ke segala arah tak menentu
aku pijaki rantai kehidupanku
aku telusuri jalan terjalku
aku daki bukit rintanganku
aku hampas semua
hampas... seperti halnya ombak terus menghantam tiada henti-hentinya
aku akan berjuang....
berjuang melawan keraguan dan keputus asan..
aku ingin berjuang seperti ombak dipesisir pantai
setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad
tak hentinya terus menerjang batu karang dan helaian pasir di pantai
akan ku telusuri itu...
karena aku mulai sadar tentang arti makna kehidupan yang harus ku jalani
Terjal, berliku, memutar, berbalik, lurus, berlawanan arah.
menghampas kesunyian-kesunyai ini
menelusuri lorong waktu
yang ku pijak seakan tiada akhir
ingin ku gapai suatu tujuan
tujuanku entah kemana?
akankah ku menemukan jalan?
jalan kepastian, tiada hambatan?
semua itu adalah teka-teki dalam hidupku
yang seakan meletup-letup seperti uranium
menjalar ke segala arah tak menentu
aku pijaki rantai kehidupanku
aku telusuri jalan terjalku
aku daki bukit rintanganku
aku hampas semua
hampas... seperti halnya ombak terus menghantam tiada henti-hentinya
aku akan berjuang....
berjuang melawan keraguan dan keputus asan..
aku ingin berjuang seperti ombak dipesisir pantai
setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan abad
tak hentinya terus menerjang batu karang dan helaian pasir di pantai
akan ku telusuri itu...
karena aku mulai sadar tentang arti makna kehidupan yang harus ku jalani
Terjal, berliku, memutar, berbalik, lurus, berlawanan arah.
Rabu, 09 Maret 2011
Anak kemarin sore
Positive thinking
Berpijak pada satu poros, memutar bagaikan roda, pada dasarnya itu adalah teori dalam hidup terkadang kita diatas dan tak ajuh juga kita dibawah. Dalam konteks ini manusia seperti halanya kita masih terperangkap dalam gejolak muda, ego, dan hal penasaran akan selalu dihadapkan. Tinggal bagaimana cara kita menyikapi, disinilah kita mulai berbenah diri kita tentukan arah kita, kemana kita akan mulai atau mengawali langkah kita untuk menempuh satu titik tujuan. Lantas kita bertanya apa yang harus kita lakukan untuk menempuh satu titik yang akan kita tuju tersebut ? jawabnaya adalah ada pada individu itu sendiri.
Kita akan dilimpahakan pada dua sarana atau suatu jalan yang akan kita temui pada saat memulai menempuh satu titik tersebut, yaitu Positive dan Negatif. Mari kita renungkan atas apa yang akan kita lakukan tapi disini kita jangan larut akan buaian renungan tersebut hingga akhirnya kita malas untuk memulainya. Kalau kita sudah malas kita termasuk dalam pilihan jalan yang ke dua yaitu Negatif.
Menghadapi dan menyikapi suatu problematika kehidupan itu tidaklah semudah membalikan kedua telapak tangan, tentunya rintangan-rintangan akan selalu terhadapi oleh kita. Dan janganlah beranggapan bahwasanya suatu maslah tersebut akan sangat sulit kita hadapi. Mari kita sama-sama belajar agar memakai pikiran yang selalu positif. Pepatah mengatakan “sedikt demi sedikit lama-lama akan menjadi bukit”. Menurut saya kata tersebut memberikan suatu pencerahan yaitu agar melakukan hal tersebut mulai dari yang kecil.
Lantas dibenak kita akan muncul kembali pertanyaan. “kalau seterusnya kita berusaha tapi tidak menuai hasil bagaimana?”, disinilah kebanyakan dari kita dan dari penulis sendiri sering terbenak pertanyaan seperti itu. Mari kita renungi untuk sejenak lagi, usaha apakah yang telah kita lakukan?, apakah usaha kita sudah memenuhi taraf dengan pengorbanan untuk menuai suatu titik yang akan kita tuju?. Memang suatu keputusasaan tersebut akan merambah ke seluk-seluk pikiran kita, sedikit demi sedikit harus kita lawan. Dan kita harus mengingat bahwa pengorbanan yang kita lakukan tidak mungkin yang tidak ada hikmahnya.
Dan setelah kita dapat menempuh suatu titik tersebut atau mungkin bisa kita anggap sukses, ingat sukses bukan suatu tujuan tapi memulai perjalanan yang baru.
09/03/2011
Jumat, 18 Februari 2011
AKU MALU
AKU MALU
Aku malu kepada-Nya
Aku malu pada utusa-Nya
Aku malu pada ajara-Nya
Aku malu . . . .
Aku malu pada karunia-Nya
Aku malu pada nikmat-nikmat-Nya
Aku malu pada atas apa yang Engkau berikan
Aku malu . . . . .
Karena aku malu akan imanku
Karena aku malu akan dosa-dosaku
Karena aku malu akan kehilafanku
Aku malu . . .
Aku rindu ridho-Mu
Aku rindu jalan lurus-Mu
Aku rindu Engkau Ya Rabb..
Aku rindu . . . .
Jumat, 11 Februari 2011
Akan ku ungkapkan
Selama ini aku terus menahan
Menahan luka yang amat dalam
Perih rasanya, pilu ku tuk mengingatnya
Dan kini mungkin rasa itu mulai memudar dari sanubariku
Sanubari yang dulu terplopori oleh rasa pilu yang amat sangat
Kehadiran dirimu membuatku terbuai
Kini serpihan-serpihan hatiku yang telah hancur
Mulai ku rajut lagi sedikit demi dikit
Semoga kau bisa mengembalikan senyumku
Seperti mentari yang tak lelah menerangi bumi
Langganan:
Postingan (Atom)




